“BOPO ANGKOSO BIYUNG BUMI”
Tour Pariwisata Bromo Purba, Kaldera Bromo, Lautan Pasir Bromo, Sejarah BromoLestari Mantra Tengger

Kaldera Lautan Pasir itulah Kaldera Tengger Ke beradaannya ada sesuai kajian Tim Warisan Geologi dan Geopark (WGG) Pusat Survei Geologi Badan Geologi KESDM dan dari peneliti terdahulu sekitar 40 ribu-an tahun lalu jauh dari peradaban praaksara serta kehidupan manusia.
Pada kawasan “mangkuk” Lautan Pasir terdapat gunung-gunung aktif, salah satunya adalah Bromo. Gunung suci bagi warga Suku Tengger sebagai Istana Agung Gunung Brahma (Bromo), Sang Hyang Brahma.
Bromo merupakan tempat suci bersemayam- nya Maha Rsi Dadap Putih. Beliau yang dipercaya sebagai manusia pertama (lihat bagan) Bromo dan menurunkan beragam manusia beserta sifat serta profesi di lereng Tengger
Maka Dewi Roro Anteng dan Dewa Joko Seger merupakan generasi ketiga dari Maha Rsi Dadap Putih Berasal dari gabungan nama keduanya, jadilah Tengger. Bagitu pula dari keduanya, melahirkan 25 anak yang menjadi cikal bakal berkembang nya keturunan Suku Tengger hingga saat ini, termasuk berwarnanya profesi.
Nah, dari ke 25 anak tersebut, anak terakhir, Prabu Dewa Brata Kusuma terpilih menjaga Istana Agung Gunung Bromo. “Oleh karena itu, Pujan (upacara) Kasada itu pujan Tengger menghormati, mengingat, dan menjalankan Sabda (pesan) Prabu Dewa Brata Kusuma atau Sabda Kusuma untuk bersyukur kepada Brahma yang telah memberikan segala kebaikan,” kata Sri Romo Suku Tengger Jati atau Dukun Pandita Tengger Romo Sutomo, Minggu (8/10/2023), di ru mah Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Sabda Kusuma dan Kasada
Perwujudan sabda tersebut, yaknı, sabda, dengan mempersembahkan sebagian hasil bumi yang kita nikmati hingga sekarang. Selain itu, Kasada merupakan upacara guna mengingat proses pergantian kedudukan penguasa Gunung Brahma sebagai pusat punjering alam semesta.
Pada Kasada ini berlaku bagı masyarakat Suku Tengger, siapa pun mereka, termasuk mereka yang meskipun bukan masyarakat Suku Tengger, namun tinggal di kawasan Tengger.
Saat Pujan Kasada itu pula bersembahyang orang Tengger, di depan Punden, Sanggar Agung Poten Letaknya berada di dalam Kawasan Luhur Poten. persis menghadap Gunung Bromo, di dataran Kaldera Lautan Pasir, yang beberapa tahun terakhir dibangun juga di sebelahnya Padmasana serta pelataran sembahyang umat Hindu Balı.
Pujan itu juga menjadi momentum berkumpulnya secara berkala seluruh Dukun Pandita Se Kawasan Tengger Merekalah para penjaga mantra suci Teng ger, Sang Moho Kudur, yang terpilih untuk melestarıkan mantra lisan tanpa tulisan sejak leluhur terdahulu.
Keaslian mantra suci
Berdasarkan kajian Sejarahwan Ignatius Sonny Wyarso, budaya lisan Suku Tengger konsisten ber tahan hingga masa kini. Utamanya, bagaimana mereka menjaga mantra-mantra suci yang tidak bisa sembarangan orang melafalkannya Hanya orang orang Tengger pilihan dari Sang Hyang Brahma serta leluhur suci yang dipercaya mampu menjaga kesakralannya.
“Ya, artinya ketika mantra itu dituliskan, bisa saja diragukan keaslian atau kesakralannya. Banyak orang akan dengan mudah mempelajarinya. Padahal, mantra-mantra itu suci dan sakral. Bahkan, pemilihan dan pengangkatan sebagai Dukun Pandita itu melalui proses pujan sakral” jelas Sonny
Begitu pula kajian dari Ayu Sutarto dalam artikel nya Sastra Lisan Tengger Pilar Utama Pemertahanan Tradisi Tengger (2009), menyatakan masyarakat Tengger masih terbiasa dengan bahasa lisan sebagai cara mengekspresikan dan mengkomunikasikan sesuatu antar mereka serta kepada orang lain di luar komunitasnya. Mereka mempertahankan tradısı lisan ini sebagai warisan yang terjaga.
Artikel darı Ayu ini juga memberikan catatan tra disı lisan ini termasuk cara menjaga keaslian man tra-mantra suci. Dan yang mereka yang disebut ha nya Dukun Pandita inilah para penjaga mantra suci itu dari abad ke abad sampai saat ini.
Romo Tomo mengatakan ada dua dukun di Teng ger, Dukun Gede itu Dukun Pandita yang memegang mantra suci dan ritual, serta satu lagi. Dukun Cilik yang bisa siapa saja belajar dan tidak diperkenankan memimpin ritual. Dukun Gede itu berasal dari kata “du” itu sadu atau suci, dan “kun” itu sabda (pesan/ perkataan), sehingga dukun itu orang yang bersabda SUCL
Selain Pujan Kasada, masyarakat selain Suku Teng- ger mengenal lima pujan lainnya dalam satu tahun kalender dengan masing masing peruntukannya, di antaranya ritul memitigasi adanya bencana saat per gantian musim (penghujan ke kemarau)
Lalu satu pujan (Unan Unan) lima tahun sekali untuk meruwat bumi dan alam semesta segala isinya terjaga dengan baik dari energi buruk. Saat bebera pa bulan menuju gelar Pujan Unan Unan ini, warga Suku Tengger berpuasa dari hajatan apa pun, terma suk membangun rumah dan sejenisnya. Kecuali upa cara kelahiran dan kematian masih diperbolehkan tetapi ritual kecil terlebih dulu.
Karo
Ritual bersama di Punden Sanggar Agung Poten itu hanya dilakukan saat Pujan Kasada. Demikian juga Pujan Karo, Romo Tomo menerangkan, pelak- sanaanya oleh warga Suku Tengger di masing-mas- ing desa serta rumah.
Ada gelaran Tari Sodoran sebagai pengejawan- tahan ajaran sangkan paraning dumadi, mengingat dari mana berasal dan akan kembalı Pementasannya dua kalı, pertama di Pasuruan (mewakili wilayah se berang wetan) dan kedua di Probolinggo (mewakili wilayah seberang kulon) Dua kali pementasan di wilayah berbeda dan harı berbeda, lanjut Romo Tomo, hal ını dımaksudkan agar masing-masing Dukun Pandita beserta warga dapat saling bersllah- turahmı.
Kesederhanaan
Warga Suku Tengger tersebar di sekitar 40 desa, dalam wilayah empat kabupaten. Pasuruan dan Malang (seberang wetan atau Barat) serta Probolinggo dan Lumajang (sebrang kulon atau Timur), Provinsi Jawa Timur Jumlah masyarakatnya yang tinggal di lingkar Kaldera Lautan Pasir itu berjumlah lebih darı 100.000 jiwa dan sebagian besar bertahan sebagai petanı ladang.
Semenjak berkembangnya Kaldera Tengger menjadi panorama obyek wisata unggulan Jawa Timur maupun Indonesia, warga lokal di empat kabupaten itu bertambah kesibukan mengantar tamu menjemput terbitnya matahari serta berkeliling di sekitaran kaldera mulai sekitar pukul 3 pagi hingga 10 pagi. Selanjutnya, mereka jeda beristirahat dan sebagaian melanjutkan berladang hingga menjelang petang.
Pemandangan ladang kentang, kubis, bawang daun, dan bawang merah mendominasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat produk tanaman tersebut memang unggulan di empat kabupaten, di antaranya yang masuk dalam wilayah Tengger.
Masakan keseharian khas Suku Tengger itu sesuai dengan budaya berladang mereka, salah satu menu lauk yang tersedia itu bernama “semen” dan bukan untuk campuran dinding tembok, ya… Melainkan ini ‘kuluban’ daun-daun kembang kol/kubis hijau direbus untuk teman sambal. Hmmm… makan menjadi semangat dengan nasi aron dan tambahan kerupuk.
Hijaunya tanaman hortikultura seakan menjadi selimut lereng-lereng Tengger, terutama di musim penghujan. Meski telah mengenal mata uang (rupi- ah), beberapa warga setempat masih mempraktikkan barter, misalnya sayuran hasil panenan di ladang di- tukar dengan ikan segar atau beras.
“Wes pada mangana. (silahkan makan…)”, itu salah satu kalimat mengawali persembahan kepada leluhur, ngaluhur leluhur desa, leluhur ngaluhur cikal bakal Tengger, Sang Hyang Moho Luhur (Tuhan itu sendiri). Persembahannya berupa sesugo, makanan yang disuguhkan selesai memasak, sebelum menjadi santapan sekeluarga.
Dalam menyajikan dandanan (sesajı) utama ketika menggelar ritual maupun hajatan upacara, sebagai simbol jagat ageng (besar) dan alit (kecil). Simbol “bopo angkoso biyung bumi” ini sebagai cakra buana, perlambang komitmen manjaga ekologi lingkungan seısınya, dan diejawantahkan melalui dandanan, berupa “gedang ayu”, setangkep pisang raja yang masih hijau. Kemudian ditengahnya ditaruh daun sirih, pinang dan injet, simbol darı Sang Hyang Brahma, Wisnu dan Siwa.
“Gedang ayu ini harus disajikan setangkep (sepasang). Kan, perlambang bumi ini sehingga berbentuk utuh kalau setangkep. Selain itu, setangkep ini perlambang di dunia ini hampir apa pun itu berpasangan, maka jagalah…” kata Romo Tomo.
Demikian Suku Tengger menerjemahkan kehidupan mereka melalui mantra suci hingga dandanan-nya. Sederhana, tapi mengena. “untuk bopo angkoso biyung bumi.”
